Ruamah adat madura

Rumah Orang Madura, Corona, dan Pertanian

oleh: Marlaf Sucipto*

visitmadura.id – Di Madura, rumah pada umumnya menghadap ke selatan dan halamannya memanjang, sambung menyambung dari satu halaman ke halaman berikutnya.

Secara geografis, matahari di Madura, terbit dari timur daya dan terbenam di barat laut; mettoh edimordejeh, compet kedibere’ lao’. Rumah menghadap ke selatan, untuk mempersedikit sinar matahari langsung yang menerobos masuk ke dalam rumah. Sebab, cuaca di Madura sudah hangat tanpa perlu ada sinar matahari langsung yang masuk ke dalam rumah. Hal tersebut juga sesuai dengan garis perjalanan matahari yang tatkala siang hari melintas tepat di atas rumah. Tidak ke selatan, tidak ke utara.

Selain itu, rumah menghadap ke selatan itu untuk menghindari gerakan angin secara langsung. Di musim kemarau, angin bergerak dari arah timur, sedangkan pada musim hujan, angin bergerak dari arah barat. Dalam terminologi orang Madura, kemarau, dikenal dengan istilah “Nemor: Angin deri temor”, sedangkan musim hujan, dikenal dengan istilah “nimpere’; Angin deri bere'”.

Saat ini di Madura musim panen. Panen kali ini, dikenal dengan istilah “penimpere’en”; panen pertama sebelum kemudian masuk masa tanam selanjutnya yaitu “panemoran”. “Panempereen”, masa tanam sampai panen, masih di musim hujan. Sedangkan “panemoran”, masa tanamnya masih musim hujan, di penghujung masa panen “panimpereen”, sedangkan panennya nanti saat masuk musim kemarau, menjelang masuk masa tanam tembakau.

Saat masuk musim panen, hasil panen, sebelum disimpan atau dijual, dijemur dulu sampai benar-benar kering. Sarananya, ya, halaman rumah yang pada umumnya dibuat memanjang, dari sekian rumah-rumah yang di-setting berjajar rapi. Orang Madura menyebutnya, “tanian lanceng”. Halaman rumah yang memanjang ini juga berfungsi untuk tempat acara seperti pesta pernikahan, tahlilan saat ada yang meninggal dunia dan acara lain yang memerlukan space ruang cukup luas dan lebar.

Sebagai anak petani, tatkala ada di rumah dan tidak ada pekerjaan utama, saya pun turut andil dalam kerja-kerja pertanian. Seperti menjemur hasil panen “panimpere’en” ini. Tubuh bergerak maksimal, keringat bercucuran dan sinar matahari dapat terserap, dinikmati langsung oleh tubuh.

Momentum ini juga dalam rangka melaksanakan anjuran pemerintah agar memilih social distance tanpa perlu melakukan lockdown di tengah virus korona yang melanda masyarakat dunia.

InsyaAllah, korona tidak akan menyerang petani di Madura. Karena mereka dalam kerja-kerja pertaniannya sudah berjemur di bawah terik matahari langsung tidak hanya minimal dua jam. Hampir seharian, petani di Madura memang berada di bawah terik matahari langsung.

Meskipun kerja-kerja pertanian bila dikalkulasi secara logis kerap tidak berbanding lurus antara modal bertani dan hasil pertanian, petani di Madura pada umumnya tetap bertahan dengan kerja-kerja pertanian. Bertani bagi orang Madura bukan semata soal untung-rugi sebagaimana logika kapitalis’m, tapi juga soal sosiologi, kosmologi, filosofi dan kesejatian diri sebagai bangsa Madura yang khas.

Saya, bangga sebagai orang Madura yang dilahirkan dari orangtua petani.
Ajemmor cekung.

*Advokat || Citizen Journalism || Mengalir, berusaha jernih saat keruh, berusaha hadir untuk teduh.

Sumber: Facebok Marlaf Sucipto/4 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *