sape sonok, wisata madura

Representasi Sosial Sape Sonok; Warisan Budaya atau Problem Tata Susila?

Representasi Sosial Sape Sonok; Warisan Budaya atau Problem Tata Susila?

Oleh: Firman Wahyudi*

visitmadura.id – Madura adalah salah satu daerah yang juga memiliki potensi kebudayaan seperti halnya daerah lain di Indonesia. Soal Madura, kita tentu tidak hanya melulu berbicara tentang budaya carok atau kekerasan, pedagang besi tua dan penghasil garam, karena selama ini Orang Madura sangat lekat dengan citra semacam itu. Ada sisi menarik lain yang perlu diperbincangkan menyangkut Madura. Salah satu aspek menarik itu tidak lain adalah aspek kebudayaan yang ada di Madura.

Kebudayaan Madura harus dipancangkan dengan lebih serius. Sebab, banyak potensi kebudayaan yang masih belum ditelusuri lebih jauh pada masyarakat Madura. Betapa tidak, hanya ada sembilan tulisan mendalam yang membahas tentang Madura (Jonge, 1989 : VII). Dari sembilan tulisan itu, tidak lantas membahas tentang kebudayaan Madura secara khusus, tapi tema tentang Madura secara umum. Demikian, banyak faktor yang menyebabkan kebudayaan Madura tidak banyak menarik minat para peneliti selama ini. Namun, Jonge melanjutkan, bahwa faktor yang paling penting ialah kenyataan bahwa kebudayaan Madura sejak lama dianggap sebagai ‘ekor’ kebudayaan Jawa. Pernyataan itu tentu ada benarnya, meski itu hanyalah salah satu faktor dari banyak faktor lain.

Sape Sonok, wisata Madura
Proses penjurian pentas Sape Sonok di Pamekasan, Madura (TaufiSFuadi).

Kebudayaan Madura yang masih belum banyak dibahas adalah tentang tradisi sono’an. Istilah sono’an sendiri berasal dari bahasa Madura yang menunjuk pada perlombaan kecantikan antara sepasang sapèh sonok (baca : sapi sonok) dengan sapèh sonok yang lain. Berbeda dengan tradisi populer lainnya seperti kerapan sapi, yang sudah manarik minat dan perhatian peneliti—paling tidak tulisan atau penelitian yang membahas tradisi ini sudah banyak—tradisi sono’an masih belum banyak dibahas oleh kalangan akademisi atau budayawan. Padahal tradisi sono’an juga merupakan sebuah tradisi yang tergolong cukup populer di Madura.

Menelisik secara historis, kerapan sapi termasuk tradisi yang lebih tua daripada tradisi sono’an. Tidak heran apabila tradisi ini lebih populer. Rosida Irmawati dalam Buyung Pambudi (2015 : 115) menjelaskan bahwa kerapan sapi sudah ada sejak abad 15 pada era pemerintahan Raja Katandur di Sumenep. Sedangkan tradisi sono’an idenya tercetus oleh seorang petani bernama H. Achmad Haerudin pada 1940-an dan pertama kali diadakan secara resmi oleh Dinas Peternakan Kabupaten Pamekasan Kecamatan Waru pada tahun 1967 (Farahdilla, 2015 : 19).

Namun, satu hal yang menarik dan perlu dicatat, lahirnya dua tradisi ini di Madura ternyata sangat terkait dengan pertanian. Sebab, Raja Katandur memunculkan ide kerapan sapi sebagai bentuk apresiatif dengan hasil pertanian para petani di Sumenep dan sono’an asal mulanya berasal dari kebiasaan H. Haerudin memandikan dan memajang sapinya setelah selesai membajak sawah (Farahdilla, 2015 : 18), yang kemudian ditiru oleh petani yang lain sehingga lahirlah tradisi sono’an. Dua tradisi ini seakan memberi bukti tersirat bahwa di Madura juga tertanam budaya agraris dan bukan hanya penghasil garam belaka.

Sape Sonok Madura, Wisata Madura
Adegan Tandek, dalam pentas Sape Sono, Madura (TaufiqSFuadi)

Terdapat perbedaan mendasar dalam ajang kontes sapèh sonok (baca : sono’an) dengan kerapan sapi. Sebab, bila dalam kerapan sapi yang dilombakan hanyalah sapi-sapi jantan, tradisi sono’an yang dikonteskan hanyalah sapi-sapi betina. Selain itu, perbedaan lainnya adalah bila kerapan sapi adalah kompetisi kecepatan sapi pejantan mencapai garis finis, dalam tradisi sono’an adalah perlombaan ‘kecantikan’ sapi betina.

Tradisi sono’an, sebagaimana halnya kerapan sapi, pada 2013 juga sudah ditetapkan oleh tim ahli Kemendikbud masuk dalam 77 kebudayaan tak benda Indonesia yang didaftarkan ke UNESCO (Kemendikbud, 2013). Langkah ini tentu merupakan langkah yang cukup signifikan untuk memajukan serta mengetahui warisan kebudayaan Indonesia secara umum dan Madura secara khusus. Setidaknya, dengan langkah demikian, nantinya bisa sebagai batu loncatan dalam mengidentifikasi atau mengeksplorasi lebih lanjut segala warisan budaya bangsa yang lain, tentunya yang berpotensi dan patut untuk dilestarikan.

Mengupas lebih jauh tentang kontes sapèh sonok, Farahdilla (2015 : 18) menjelaskan bahwa istilah sapèh sonok berasal dari singkatan bahasa Madura soro (disuruh) dan nyono (masuk), yang kemudian disingkat menjadi sono’ yang sebenarnya berarti sapi yang disuruh masuk melewati pintu. Adapula yang mengatakan, Farahdilla melanjutkan, bahwa sapèh sonok adalah singkatan dari kata sokonah (kakinya) dan nongkok (naik), yang disingkat jadi sonok, yang menunjuk pada kaki sapi yang menaiki atau menginjak papan kayu apabila sudah sampai di gerbang finis dalam perlombaan sapèh sonok. Namun, peneliti di sini akan lebih menggunakan istilah sono’an karena masyarakat Madura sering menggunakan istilah ini untuk menunjuk pada tradisi kontes kecantikan sapi betina.

sape sonok, wisata madura
Salah satu personil Saronen sedang antraksi (ZuhaidiAzai).

Sono’an merupakan ajang kontes sepasang sapi betina khas Madura yang dipilih dengan selektif. Sapi yang dikonteskan bukanlah sapi yang biasa kita lihat untuk membajak kebun atau tegal. Sapi betina yang dipilih dalam perlombaan sono’an adalah sapi yang sudah dilatih dan diberi perhatian khusus agar sapi itu bisa tampil menarik dan menghibur saat kontes dilaksanakan.

Glen Smith (1989 : 289) dalam Jonge mengatakan bahwa arena sono’an atau perlombaan sapèh sonok mungkin memiliki panjang hanya berkisar 50 meter dan lebar 25 meter. Pada ujung arena, terdapat semacam ‘gerbang’ sebagai batas bagi sapi-sapi betina itu untuk berjalan. Gerbang itu terbuat dari ukiran kayu yang di bawahnya terdapat samacam ‘plat’ atau semacam ‘papan’ selebar 20 senti yang harus dinaiki atau diinjak oleh sepasang sapi. Saat berjalan, sapi juga diiringi oleh alunan musik saronen. Sapi itu dinilai berdasarkan keserasian saat berjalan, warna kulit, dan ciri-ciri fisik yang lain.

Tradisi sono’an atau kontes sapèh sonok  yang tumbuh pada 1940-an telah menjadi salah satu tradisi yang sangat digemari oleh masyarakat Madura secara umum. Bahkan saat ini sono’an termasuk salah satu ikon budaya yang menyaingi popularitas kerapan sapi, meski pun yang punya sapèh sonok hanya sebagian kalangan tertentu saja. Artinya, saat ini, hampir semua masyarakat Madura tahu dengan tradisi sono’an, meski pun tidak banyak orang yang memilih untuk memelihara sapèh sonok.

Biasanya, sono’an terbagi menjadi tiga tahap kontes yang sering diadakan. Pertama, kontes tingkat kecamatan. Pemilik sapèh sonok yang ikut perlombaan pada tahap ini adalah pemilik sapèh sonok yang berasal dari beberapa desa yang ada dalam naungan kecamatan. Dari perlombaan ini dipilihlah satu atau beberapa sapi terbaik untuk mewakili kecamatan dalam lomba tingkat kabupaten.

Kedua, kontes tingkat kabupaten. Masing-masing kabupaten dari empat kabupaten yang ada di Madura biasanya selalu mengadakan sono’an yang pesertanya para pemilik sapi terbaik di tingkat kecamatan. Hampir semua kecamatan ikut terlibat dalam pagelaran sono’an yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah masing-masing, meski pun sebenarnya tidak diwajibkan bagi masyarakat kecamatan untuk mengikuti pagelaran sono’an ini.

sape sonol, wisata madura
Adegan komplit saronin dalam sebuah pentas Sape Sonok, Madura (Cak Har).

Seperti di Sumenep, misalnya, biasanya pagelaran sono’an diadakan untuk memperingati hari jadi Sumenep bersamaan dengan event kebudayaan yang lain. Dari perlombaan sono’an tingkat kabupaten juga dipilih sapi terbaik untuk mengikuti pagelaran sono’an tingkat Madura.

Ketiga, pagelaran sono’an tingkat Madura. Sapèh sonok yang dilombakan dalam ajang ini adalah sapèh sonok terbaik yang ada di seluruh Madura dan kontes inilah yang biasanya dijadikan momentum bagi para pemilik sapèh sonok untuk memamerkan sapi kebanggaannya. Sono’an pada tingkat Madura setiap tahun diselenggarakan di Pamekasan. Bukan tanpa alasan ‘puncak’ dari pagelaran sono’an diselenggarakan di sini; karena selain menjadi daerah yang paling massif mengembangkan tradisi sono’an, Pamekasan dipilih karena di tanah inilah tradisi sono’an itu lahir.

Sedangkan, yang ikut dalam kontes ini juga merupakan sapèh sonok yang sudah punya nilai estetis dan nilai ekonomis yang cukup tinggi. Sebab, bila menang dalam kontes ini, secara genetik akan dilegitimasi menghasilkan turunan sapèh sonok yang berkualitas dan tentu saja akan mendongkrak harga jualnya hingga mencapai harga ratusan juta rupiah.

Tahap-tahap dari pagelaran sono’an itu, tak pelak, telah menjadikan tradisi sono’an menjadi ajang kontes sapi yang sangat digandrungi pada masyarakat Madura. Tidak hanya sebagai hiburan belaka, dan tidak hanya kerapan sapi, ajang kontes sapèh sonok atau sono’an merupakan ajang kebudayaan yang diselenggarakan setiap tahun dan juga telah menjadi sebuah tradisi baru di Madura. Artinya, masyarakat Madura tidak hanya punya tradisi kerapan sapi, tetapi secara perlahan juga mulai membentuk sebuah tradisi budaya baru bernama sono’an.

sape sonok, wisata madura
Salah satu pengunjung pentas sape sonok, Madura (@Hiromikyuna).

Sono’an tidak hanya dikenal sebagai tradisi bagi masyarakat Madura. Lebih dari itu, sapèh sonok telah dianggap sebagai komoditi yang bisa membawa banyak keuntungan bagi para pemiliknya. Paling tidak, ada dua keuntungan yang bisa dipetik oleh seseorang yang memiliki sapèh sonok. Pertama, keuntungan ekonomis. Bayangkan, harga anak sapèh sonok (dalam bahasa Madura disebut : pedet) saja, bisa mencapai 25 juta rupiah. Sedangkan harga sapèh sonok yang sudah dara dan dewasa berkisar antara 50 juta sampai 100 juta (Farahdilla, 2015). Meski para pemilik sapèh sonok harus merogoh uang perawatan yang lebih banyak daripada hanya merawat sapi-sapi biasa, tapi keuntungan komersial yang didapat dari hasil penjualan sapèh sonok bisa berlipat-lipat.

Kedua, status sosial tinggi. Orang yang memiliki sapèh sonok punya strata tersendiri di masyarakat Madura. Tak bisa dipungkiri, posisi sosial pemilik sapèh sonok bisa dibilang tinggi. Bahkan, ada anggapan umum bahwa orang yang memiliki sapèh sonok pasti adalah orang yang mampu atau kaya. Anggapan umum ini kadangkala juga melekat pada para pemilik, yang terkadang hanya sekadar hobi memilihara sapèh sonok, meskipun pada kenyataannya, kehidupan pemilik itu sederhana. Artinya, dengan memiliki sapèh sonok, citra seseorang bisa berubah dari yang semula sederhana menjadi mewah.

Kemewahan itu kadang nampak pula saat sono’an telah digelar. Seluruh pemilik sapèh sonok yang ikut pagelaran sono’an selalu tampak jorjoran untuk membiayai atau merias sapinya. Bahkan ada pemilik sapèh sonok yang rela memasang aksesoris berupa emas 30 gram di masing-masing kakinya (oto.detik.com, 2010).

Pamekasan merupakan Kabupaten yang tidak hanya sering mengadakan kontes sapèh sonok setiap tahunnya, tapi juga gencar mengembangkan sapèh sonok. Pusat pengembangan sapèh sonok di Pamekasan, terletak di empat Kecamatan, yaitu Kecamatan WaruPakong, Pasean, dan Batumarmar (Farahdilla, 2015 : 50). Menurut Farahdilla, empat Kecamatan ini dulunya sebuah daerah Keresidenan Waru. Permasalahannya kemudian, empat Kecamatan yang termasuk dalam pusat pengembangan sapèh sonok yang ada di Pamekasan tersebut, masih tergolong Kecamatan yang berkutat dengan ketimpangan ekonomi dan kemiskinan.

Desa Waru Barat yang masuk daerah Kecamatan Waru, adalah salah satu bukti nyata bahwa masih adanya ketimpangan ekonomi. Di Desa Waru Barat, rata-rata pendapatan penduduknya hanya sekitar 400.000 rupiah perbulan. Selain itu, hal menarik lain yang bisa dipaparkan melalui Data Administrasi Desa pada 2015 menunjukkan bahwa Desa Waru Barat, dari 6.385 Kartu Keluarga, 65,25% termasuk golongan keluarga miskin (Buku Desa Waru Barat, 2017 : 13).

Masyarakat Desa Waru Barat yang masih terjerat dengan ketimpangan ekonomi, di satu sisi menimbulkan anggapan bahwa orang yang memiliki sapèh sonok adalah orang yang mampu. Di sisi lain, ada pemilik sapèh sonok yang saat mengikuti kontes sapèh sonokmenampilkan sapèh sonok miliknya dengan megah. Dengan demikian, secara sosial, pemilik sapèh sonok punya status sosial cukup tinggi di masyarakat Desa Waru Barat.

Pemilik sapèh sonok yang mempunyai status sosial yang tinggi tentunya masih bisa diperdebatkan atau disangsikan. Karena hal itu berasal dari anggapan umum masyarakat yang ada di Desa Waru Barat yang tidak wajib disepakati. Namun, yang menjadi perhatian peneliti di sini adalah bagaimana pemilik sapèh sonok menampilkan representasi tentang sapèh sonok, setidaknya sapèh sonok miliknya sendiri, di dalam ranah sosial.

Dengan kata lain, representasi seperti apa yang telah dibangun oleh pemilik sapèh sonok dalam ranah sosial sehingga menimbulkan anggapan umum bahwa memiliki sapèh sonok adalah kemewahan yang bisa meninggikan status sosialnya. Peneliti melihat permasalahan ini sebagai keganjilan yang mengganjal. Karena di Desa Waru Barat, hanya dengan bermodal memiliki sapèh sonok bisa menentukan atau meningkatkan status sosial seseorang dalam ranah sosial.

*Alumnus Sosiologi Universitas Brawijaya, Malang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *