Madura Tempo Doelo, wisata di madura

Madura dalam Nusa Jawa

Oleh: A Dardiri Zubairi

visitmadura.id –┬áBuku Nusa Jawa: Silang Budaya karangan Denys Lombard yang terdiri dari 3 jilid ini sudah lama ada di rak buku saya. Seingat saya 3 jilid sudah tuntas saya baca. Cuma kalau ingat isinya soal lain. Entah, tiba-tiba saya ingin baca lagi. Gaya menulisnya yang diakronik dan maju mundur menjadikan buku ini enak dibaca.

Saat ini saya membacanya dengan pendekatan beda dari dulu. Sambil membaca kerangka besar isi buku yang memang menulis soal jawa, saya mencoba mencermati bagaimana Lombard menulis MADURA yang jadi “bagian” dari Jawa.

Di bab pengantar, Pertimbangan Geo-Historis, yang berjumlah sekitar 27 halaman Lombard menyebut Madura sebanyak 10 kali dengan konteks penjelasan yang berbeda. Pada halaman 16 madura disebut dalam konteks menjelaskan keragaman suku di Indonesia bersama jawa, sunda, melayu, aceh, minang, batak, orang palembang, orang lampung, dayak, banjar, bugis, minahasa, toraja, makasar, bali, sasak, ambon, timur, sawo, dan suku-suku di Irian Barat (papua).

Buku Nusa Jawa, wisata di Madura
Buku Nusa Jawa: Silang Budaya 3 Jilid.

Halaman 19, madura disebut lagi dalam kontes menjelaskan bentangan luas jawa, dari barat hingga timur yang panjangnya lebin dari 1000 km. Lombard menulis, “Jawa beserta madura yang “terkait” (tanda petik dari saya) kepadanya itu tampak bagaikan empat persegi panjang”,

Halaman 20 Madura dijelaskan lagi berhubungan dengan karakteristik geographisnya dan karakternya yang terdiri daei bukit-bukit kapur. Soal ini juga dibahas lebih detail di halaman 36 dimana madura dipilah menjadi bagian dari kawasan bukit kapur (gunung Kendeng, Pegunungan Kapur Utara)yang membentang sejak blora, purwadadi hingga terus ke arah timur dan berlanjut ke Madura.

Di halaman 36 juga ada satu paragrap yang menjelaskan tentang karakter tanah madura yang sedikit ditanami padi, tembakau dan sebagian besar jagung dan menjadi tempat gembalaan sapi yang khas di Asia Tenggara. Termasuk juga garam dan penangkapan ikan. Karena itu madura dianggap sebagai bagian dari dunia pesisir. Madura memiliki bahasa sendiri yang berbeda dari jawa, dan Islam menjadi faktor identitas penting sebagaimana suku sunda yang menolak kompromistis orang jawa. Soal ini perlu dikaji lebih dalam, karena karakteristik Islam madura dan sunda menurut saya agak berbeda, dan lebih dekat dengan jawa.

Di bagian akhir halaman yang sama, lombard menyebut wilayah jawa bagian timur yang dulu masuk daerah blambangan yang letaknya di selatan selat madura. Ketika akhir abad 19 dan awal 20 Belanda membuka perkebunan kopi dan karet, pekerja madura berdatangan ke sana dan kemudian mukim, sehingga wilayah seperti banyuwangi, jember, situbondo, bondowoso, lumajang, probolinggo, bahkan hingga pasuruan banyak dihuni oleh orang Madura.

Satu hal penting, wilayah madura merupakan jaringan wilayah bukit kapur yang membentang sejak gunung kendeng. Saat ini di kendeng para petani masih berjuang melawan PT Semen Indonesia yang pongah mau membangun pabrik semen. Jika di sana gagal, bukan tidak mungkin madura menjadi target berikutnya. Lamat-lamat saya mendengar seiring habisnya lahan warga diborong pemodal, pabrik semen akan dibangun di wilayah pesisir utara Sumenep. Lepas benar atau tidak, habisnya lahan di Madura, lebih-lebih Sumenep, akan memberi ancamam yang tidak main-main bagi masa depan Madura.

Mari mulai bergerak sejak sekarang…!

10 Maret 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *