jejak majapahit di madura, VIHARA AVALOKITESVARA

Jejak Majapahit dan Aura Vihara Avalokitesvara Pamekasan Madura

Oleh: Kosala Mahinda

visitmadura.id – Jejak Majapahit di Madura; Vihara Avalokitesvara Pamekasan Madura merupakan salah satu situs peninggalan peradaban manusia masa lampau yang sangat menarik dan berarti. Vihara Avalokitesvara Pamekasan yang juga merupakan TITD (Tempat Ibadah Tri Darma) Kwan Im Kiong terletak di pantai Talang Siring Kampung atau Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, kurang lebih 17 km sebelah timur kota Pamekasan Madura.

Di tengah komplek peribadatan umat tridarma itu, tampak berdiri mushala dan pura. Inilah yang membuatnya unik. Ada rasa saling menghormati dan toleransi yang kental di dalamnya. Dengan keberadaan mushala dan pura di dalamnya, Vihara Avalokitesvara dianggap sebagai simbol kerukunan umat beragama.

Vihara Avalokitesvara, wisata madura
Vihara Avalokitesvara, Pamekasan Madura

Mushala berukuran 4 x 4 meter yang berwarna hijau itu terlihat kontras dengan bangunan vihara yang dominan dengan warna merah. Kubah mushala tersebut berbentuk piramid berundak tiga, mirip seperti masjid umumnya di Pulau Jawa. Lokasinya berada tepat di depan kanan vihara. Meski tidak besar, pihak vihara menyediakan tempat berwudhu, sarung, sajadah dan mukena.

Selain mushala, ada tempat ibadah untuk umat lainnya. Di dalam komplek vihara terdapat pura yang ukurannya 3 x 3 meter, sedikit lebih kecil dari mushala. Pembangunan pura atas kapolwi Madura saat itu yang berasal dari Bali dan menganut agama hindu.

Bagi kalangan warga Tionghoa, Kelenteng Kwan Im Kiong sebutan lain untuk Vihara Avalokitesvara, mempunyai keunikan tersendiri. Selain merupakan Tempat ibadah umat Tri Darma terbesar di Madura, sejumlah warga Tionghoa mengaku tertarik karena Vihara Avalokitesvara mempunyai sejarah yang panjang. Ada semacam legenda atau cerita lisan yang telah berlangsung turun-temurun termasuk sisa-sisa peninggalan budaya jaman Majapahit.

Vihara Avalokitesvara, Jejak Majapahit di Madura
Vihara Avalokitesvara, Pamekasan, Madura

Pada awal abad ke-16 terdapat sebuah Kerajaan Jamburingin di daerah Proppo sebelah barat Pamekasan, yang menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit. Raja-raja Jamburingin yang masih keturunan Majapahit itu mempunyai rencana membangun candi untuk tempat beribadah, tepatnya di kampung Gayam, kurang lebih dua kilometer ke arah timur Kraton Jamburingin, dan mendatangkan perlengkapannya lewat Pantai Talang dari Kerajaan Majapahit.

Dahulu Pantai Talang dijadikan tempat berlabuh perahu-perahu dari seluruh penjuru Nusantara karena karena pantainya yang landai dan bagus pemandangannya. Terlebih bagi armada Kerajaan Majapahit untuk mensuplai bahan-bahan keperluan keamanan ataupun spiritual di wilayah Pamekasan. Di antaranya, pengiriman patung-patung dan perlengkapan ibadah.

Namun, setelah tiba di pelabuhan Talang, kiriman patung-patung dari Majapahit ke Kraton Jamburingin sama sekali tidak terangkat setelah tiba di Pelabuhan Talang. Penduduk pada waktu itu hanya bisa mengangkat beberapa ratus meter saja dari pantai. Akhirnya, penguasa Kraton Jamburingin memutuskan untuk membangun candi di sekitar pantai Talang.

Tempat Candi yang tidak terwujud itu, sekarang dikenal dengan Desa Candi Burung merupakan salah satu desa di Kecamatan Poppo, yang lokasinya berdekatan dengan Desa Jamburingin. Burung dalam bahasa Madura berarti gagal (tidak jadi).

Rencana pembangunan candi di Pantai Talang pun tidak terlaksana seiring perkembangan kejayaan Kerajaan Majapahit yang mulai pudar serta penyebaran agama Islam mulai masuk dan mendapat sambutan yang sangat baik di Pulau Madura, termasuk daerah Pamekasan. Akhirnya, patung-patung kiriman dari Majapahit pun dilupakan orang, serta lenyap terbenam dalam tanah.

Sekitar tahun 1800, Pak Burung tidak sengaja menemukan patung-patung dari Majapahit tersebut di ladangnya. Kabar penemuan itu sangat menarik perhatian penjajah Belanda. Pemerintah Hindia Belanda meminta Bupati Pamekasan Raden Abdul Latif Palgunadi alias Panembahan Mangkuadiningrat I(1804-1842) untuk mengangkat dan memindahkan patung-patung tersebut ke Kadipaten Pamekasan. Tetapi, karena keterbatasan peralatan saat itu, proses pemindahan patung-patung tersebut ke Kadipaten Pamekasan gagal juga. Patung-patung tersebut tetap berada di lokasi ketika ditemukan.

Kurang lebih 100 tahun kemudian, sebuah keluarga Tionghoa membeli ladang tempat penemuan patung-patung tersebut. Setelah dibersihkan, diketahui bahwa patung-patung tersebut bukan sembarang patung. Patung-patung tersebut memiliki khas Buddha beraliran Mahayana yang punya banyak penganut di daratan Tiongkok.

Salah satu patung itu ternyata patung Kwan Im Po Sat alias Avalokitesvara. Tingginya 155 sentimeter, tebal tengah: 36 cm dan tebal bawah: 59 cm . Kabar ini pun tersebar luas di kalangan orang Tionghoa di Pamekasan dan Pulau Madura umumnya. Sejak itulah dibangun sebuah kelenteng untuk menampung patung Kwan Im Po Sat, Dewi Welas Asih yang sangat dihormati di kalangan masyarakat Tionghoa (diolah dari penuturan Ketua Kelenteng Pamekasan Kosala Mahinda).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *