Ihwal Giligenting; Dari Keindahan hingga Kesentosaan

Oleh: Marlaf Sucipto*

visitmadura.id – Di Giligenting, ternyata saya menjumpai kawanan kambing dan sapi yang merumput secara liar. Pemiliknya jauh dari hewan peliharaan tersebut. Ini istimewa karena di kampung saya, sapi dan kambing tinggal di kandang, makan-minumnya disuguhkan oleh pemiliknya. Foto tak sempat ambil.

Karena tidak perlu penanganan seperti di kampung saya, kambing-sapi di Giligenting, bertumbuh kembang secara cepat dan pemiliknya cukup memantau kepemilikan tersebut dengan kalung yang dipasang di lehernya.

Sebab di perairan Giligenting ada perusahaan minyak Santos asal Australia, Giligenting menjadi salah satu objek penyaluran dana Corporate Sosial Responsibility (CSR)-nya Santos. CSR Santos rata-rata berupa perbaikan jalan dan bangunan publik seperti lembaga pendidikan. Jadi, empat desa di Giligenting, terbantu dalam “membangun” desanya tidak hanya dari dana desa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Masyarakat Giligenting masih banyak di antaranya yang konsisten sebagai nelayan, walaupun mulai banyak di antara mereka yang menjadi perantau, umumnya ke Jakarta dan Banten, membuka toko-toko sembako.

Mereka yang sukses menjadi perantau, pada umumnya mampu membangun rumah megah di Giligenting. Cuma, dari sekian rumah megah itu, rata-rata hanya ditempati oleh kakek-nenek mereka yang sudah berumur senja, plus anak-anak para perantau tersebut sebelum mereka dimondokkan ke pesantren.

Di Giligenting, selain oksigennya melimpah, udaranya juga belum terlalu tercemar. Menangkap suara apa pun masih bening dari jarak yang cukup jauh, yang bila itu dilakukan di luar Giligenting, suara-suara itu sudah tidak bisa ditangkap secara jernih.

Pepohonan di Giligenting, didominasi oleh jenis pohon yang bila ditilik dari istilah orang Madura, “Kan Palempheng”. Ada juga yang menyebut “Kajuh Cheren”. Selainnya, “Kan Mimpheh” dan “Kan Bukkol”, Bidara dalam bahasa Indonesia.

Burung-burung pun yang sudah langka di kampung saya seperti Burung Gagak, Burung yang bersayap seperti gunting dan Walet, masih banyak ditemui di Giligenting. Bahkan, sepasang Burung Gagak terlihat jinak, membangun sarang di pohon jati yang menjulang tinggi, di timur laut rumah teman yang saya silaturrahimi ini.

Listrik Giligenting disuplai oleh Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) oleh PT. PLN (Persero). Jadi, sudah aman soal daya untuk penerang, pompa, dan nge-charge handphone. Signal handphone pun bagus.

Jadi, jika ke Giligenting, selain dapat menikmati hal istimewa yang tidak bisa dijumpai di luar Giligenting, kita tetap tidak akan kehilangan “dunia” yang kita nikmati di luar Giligenting.

Yang khas jika silaturahmi ke Giligenting, akan dijamu oleh ikan segar hasil tangkapan para nelayan, mulai cumi sampai ikan-ikan lain yang tidak saya tahu nama-namanya. Enak-mantap.

Ikan-ikan di perairan Giligenting masih berlimpah. Sebab berlimpahnya ikan, tidak hanya nelayan asal Giligenting yang kecipratan rezeki, nelayan dari Mojokerto dan Gersik kerap melaut di perairan Giligenting. Maklum, di Gersik dan Mojokerto, jangankan manusianya yang gerah sebab polusi industri, ikan-ikannya pun pergi, bergeser ke perairan yang masih asri seperti ke perairan Giligenting.

Mari sambung-jalin silaturahmi. Sebab, dibalik silaturahmi, ada kenikmatan seperti bisa sharing langsung dengan kawan dan dapat menikmati sisi pemanis lain seperti hidangan, orang-orang baru selama perjalanan sampai soal panorama alam yang aduhai indahnya seperti di Giligenting.

Terima kasih kawan Ainul¬†Yaqind¬†atas semuanya. Semoga pernikahannya yang masih berumur enam bulan, berkah, hidup bahagia sampai ajal tiba. Bantu doa juga ya, semoga saya pun dapat menyempurnakan “tulang rusuk” yang masih dirahasiakan Tuhan.

Salam,

*Advokat || Citizen Journalism || Mengalir, berusaha jernih saat keruh, berusaha hadir untuk teduh.

Sumber: Facebok Marlaf Sucipto/ 1 Maret 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *